Senin, Mei 4, 2026
BerandaKarimunPT TIMAH Serahkan Bantuan Alat Tangkap untuk Nelayan di Karimun

PT TIMAH Serahkan Bantuan Alat Tangkap untuk Nelayan di Karimun

KARIMUN, beritakita.info – Bagi nelayan tradisional di pesisir Pantai Kobel, Kabupaten Karimun, jaring bukan sekadar perlengkapan kerja. Ia adalah aset tunggal, penentu antara membawa pulang rupiah atau sekadar lelah. Namun, di tengah fluktuasi harga komoditas laut dan melambungnya harga alat tangkap, para nelayan kerap terjepit dalam siklus ekonomi yang mencekik.

Merespons realitas di akar rumput tersebut, PT TIMAH Tbk menyalurkan bantuan jaring udang kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sumur Air Mawar, Desa Sawang Laut, pekan lalu. Langkah ini menjadi intervensi krusial bagi kelompok nelayan yang selama ini berjuang dengan peralatan seadanya di tengah musim udang yang tengah mencapai puncaknya.

Anomali Harga dan Beban Nelayan

Ketua KUB Sumur Air Mawar, Amri, memaparkan potret buram yang dihadapi anggotanya. Jaring udang memiliki masa pakai yang pendek; rata-rata hanya bertahan tiga hingga empat bulan sebelum rusak dan harus diganti. Di sisi lain, pendapatan nelayan tradisional sering kali habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok, tanpa menyisakan ruang untuk investasi alat baru.

“Harga jaring sekarang tidak sebanding dengan penghasilan nelayan. Bantuan ini sangat kami harapkan karena kalau harus beli sendiri, rasanya sangat berat bagi kami,” ungkap Amri.

Kesenjangan antara biaya modal melaut dan harga jual udang yang tidak menentu membuat bantuan ini datang di momentum yang tepat. Apalagi, saat ini perairan Karimun sedang memasuki musim udang dengan nilai jual yang menjanjikan. Dengan jaring baru, nelayan tidak hanya mengganti alat yang rusak, tetapi juga berpeluang menambah kapasitas tangkap mereka.

Menjaga Denyut Ekonomi Pesisir

Penyerahan bantuan ini menandai kali pertama KUB Sumur Air Mawar mendapatkan sokongan langsung dari emiten pertambangan timah tersebut. Bagi PT TIMAH Tbk, bantuan alat tangkap adalah bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat pesisir yang tinggal di lingkar operasional perusahaan.

[Image: Traditional fishermen preparing shrimp nets on the coast of Karimun]

Langkah ini mencerminkan kepedulian pada “ekonomi mikro” di wilayah operasional. Ketika infrastruktur alat tangkap terpenuhi, ketahanan pangan dan ekonomi keluarga nelayan di Desa Sawang Laut pun ikut terjaga. Di pesisir Pantai Kobel, jaring-jaring baru ini diharapkan mampu menjaring lebih banyak peluang di tengah ombak yang tidak menentu.

Sinergi di Tengah Tantangan

Bantuan ini sekaligus mempertegas posisi PT TIMAH Tbk dalam menjalankan mandat Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Di wilayah kepulauan seperti Karimun, dukungan terhadap sektor perikanan tradisional adalah kunci untuk menciptakan keharmonisan antara industri ekstraktif dengan masyarakat lokal.

Dengan alat tangkap yang lebih memadai, para nelayan kini memiliki modal lebih kuat untuk mengarungi musim udang. Harapannya sederhana namun mendalam: memastikan dapur tetap mengepul dari hasil laut yang dikelola dengan peralatan yang layak.(*)