KARIMUN, beritakita.info – Di suasana gerimis pagi hari kedua Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M, suasana di kawasan Baran Dua, Kelurahan Baran Barat, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun tampak berbeda dari biasanya. Di sebidang tanah yang dianggap sebagai tanah leluhur itu, puluhan orang berkumpul, saling bersalaman, dan saling tanya kabar.
Wajah-wajah yang tampak akrab itu adalah anggota besar keluarga Abdurahman Nyerit dan keluarga besar Saudare Mare. Tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka kembali berkumpul bukan hanya untuk silaturahmi biasa, melainkan untuk menjalankan tradisi turun-temurun yakni berkurban di tanah kelahiran nenek moyang mereka.

Di tengah lapangan itu, terlihat dua ekor sapi dan satu ekor kambing tampak tenang. Hewan-hewan ini adalah wujud keikhlasan dan gotong royong seluruh anggota keluarga besar. Bagi mereka, berkurban di tanah leluhur bukan sekadar ibadah sunnah, melainkan wujud penghormatan dan rasa cinta terhadap akar budaya dan asal-usul mereka. Suasana haru dan kekeluargaan terasa sangat kental saat prosesi penyembelihan dimulai, berjalan khidmat sesuai syariat Islam, disaksikan dari anak-anak, remaja, hingga para tetua keluarga yang menjadi saksi hidup panjangnya sejarah persaudaraan ini.
Ketua Pengurus Saudare Mare, Maryanto, berdiri di tengah-tengah kerumunan, tampak bangga dan haru melihat kebersamaan yang masih terjaga hingga kini. Baginya, tradisi ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sudah bertahun-tahun lamanya kegiatan ini berjalan tanpa putus, menjadi agenda wajib yang ditunggu-tunggu setiap kali bulan Dzulhijjah tiba.

“Ini adalah kegiatan rutin kami setiap tahun. Sudah menjadi tradisi yang sudah mengakar kuat di keluarga besar Abdurahman Nyerit dan Saudare Mare. Kami sengaja berkumpul dan melaksanakan ibadah kurban di sini, di tanah leluhur kami di Baran Dua ini. Tujuannya satu, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama anggota keluarga, menjaga rasa persaudaraan yang sudah terjalin, serta tetap menjaga hubungan baik dengan warga sekitar tempat tinggal leluhur kami dulu,” ungkap Maryanto dengan nada penuh kebanggaan.

Bagi keluarga besar ini, makna kurban sangat luas. Tidak hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, menyembelih rasa malu, dan menyembelih rasa enggan untuk berbagi. Itulah yang tercermin dari pembagian daging yang dilakukan tahun ini. Dari 2 ekor sapi dan 1 ekor kambing yang dikurbankan, panitia yang diketuai oleh Novriadi atau yang sering disapa Uut, mengolah dan mengemas daging tersebut menjadi 247 bungkus. Jumlah ini bukan angka yang kebetulan, melainkan perhitungan matang agar setiap anggota keluarga, jauh maupun dekat, serta tetangga di sekitar lokasi mendapatkan bagian yang sama dan merasakan keberkahan hari raya ini.

“Alhamdulillah tahun ini kami hasilkan 247 bungkus daging. Ini kami salurkan untuk seluruh anggota keluarga besar Saudare Mare yang ada di mana saja, dan tentunya tidak lupa juga kami berikan kepada tetangga-tetangga sekitar yang tinggal di wilayah Baran Dua ini. Kami ingin kebahagiaan dan keberkahan Idul Adha ini tidak hanya milik keluarga kami saja, tapi juga milik seluruh tetangga dan warga sekitar,” tambah Uut

Ratusan bungkus daging kurban itu kemudian diserahkan satu per satu. Ada senyum lega dan bahagia di wajah warga saudare mare saat menerima bungkusan tersebut. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kebersamaan, saling menghormati, dan saling berbagi yang diajarkan oleh leluhur mereka masih hidup dan terus diwariskan hingga saat ini. Di tengah kemajuan zaman yang serba modern, tradisi ini menjadi pengingat bahwa akar yang kuat akan membuat pohon tetap tegak berdiri.

Di akhir kegiatan, suasana menjadi semakin hangat. Warga dan keluarga besar tidak segera bubar, melainkan saling berbincang santai, saling bercerita kisah masa lalu, hingga saling mendoakan. Bahkan mereka sepmpat bergotong royong bersama untuk menciptakan menu sop tulang, tongseng sapi dan gulai kambing acar mentah serta ikan saos untuk dinikmati bersama seluruh keluarga yang berjibaku mengurus penyembelihan hewan kurban tersebut.

Di tanah leluhur Baran Dua ini, Idul Adha terasa lebih bermakna. Bukan hanya tentang daging yang disantap, tapi tentang persaudaraan yang terjaga. Sebagaimana semangat yang selalu ditanamkan oleh keluarga besar Abdurahman Nyerit dan Saudare Mare yakni kebersamaan adalah kekuatan terbesar untuk menjaga warisan leluhur dan menebar kebaikan bagi sesama.
*Nichita Bella



