Kamis, Juli 16, 2026
BerandaKarimunPT TIMAH Dorong Lahirnya Batik Khas Kundur, UMKM Binaan Siap Jadi Pilar...
spot_img
spot_img
spot_img

PT TIMAH Dorong Lahirnya Batik Khas Kundur, UMKM Binaan Siap Jadi Pilar Ekonomi Kreatif

KARIMUN, beritakita.info – PT TIMAH (Persero) Tbk terus memperkuat komitmennya dalam memberdayakan masyarakat di wilayah operasional melalui pengembangan usaha mikro berbasis budaya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendampingi Rumah Batik Kundur, kelompok UMKM binaan yang kini mulai mengembangkan batik khas daerah sebagai identitas budaya sekaligus peluang ekonomi baru.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kunjungan Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT TIMAH, Ratih Mayasari, ke Rumah Batik Kundur di Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Dalam kesempatan itu, Ratih berdialog langsung dengan para perajin batik binaan perusahaan.

Ratih mengatakan, kehadiran Rumah Batik Kundur merupakan bagian dari upaya PT TIMAH mendorong lahirnya pelaku usaha baru di sektor ekonomi kreatif sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal.

“Saya mengapresiasi tim yang telah membantu memfasilitasi lahirnya UMKM baru yang bergerak di bidang batik khas Kundur. Ini membuktikan bahwa perusahaan tambang hadir bukan hanya untuk mengelola sumber daya alam, tetapi juga ikut menciptakan peradaban,” ujar Ratih.

Menurutnya, pengembangan UMKM batik diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan sehingga mampu menjadi motor penggerak ekonomi baru yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“PT TIMAH akan terus mendampingi agar lahir pengrajin batik khas Kundur yang pertama kalinya ada di Kundur, sehingga nantinya dapat tumbuh besar, kuat, dan menjadi pilar ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, anggota Rumah Batik Kundur, Farhida Hanum, mengaku bangga menjadi bagian dari kelompok binaan PT TIMAH. Ia mengatakan proses pembentukan kelompok hingga peningkatan kemampuan para anggota dilakukan sejak tahap awal oleh perusahaan.

“Bisa dibilang semuanya dimulai dari nol. PT TIMAH yang mengumpulkan kami, ibu-ibu yang memiliki kemampuan menjahit, kemudian diberikan ruang untuk berkembang bersama membangun Batik Kundur,” ujarnya.

Farhida menjelaskan, para anggota telah mendapatkan pelatihan dasar membatik, kemudian kembali mengikuti pelatihan intensif yang difasilitasi PT TIMAH pada 2025.

“Kami mendapat pelatihan selama tiga hari dan itu sangat membantu. Sebelumnya juga pernah belajar dari rekan-rekan di Karimun, sehingga sekarang kami bisa mulai mengembangkan batik khas daerah sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, ketertarikannya pada dunia batik bukan hanya karena nilai ekonominya, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian warisan budaya Indonesia.

“Tertarik membatik karena batik merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Kami ingin Kundur juga punya identitas batiknya sendiri,” ungkapnya.

Batik khas Kundur yang dikembangkan saat ini mengangkat berbagai unsur lokal sebagai inspirasi motif, seperti siput khas yang menjadi bahan makanan tradisional lendot, dedaunan lokal, bunga, hingga bentuk geografis Pulau Kundur.

“Kami punya motif siput khas Kundur, kemudian daun dan bunga lokal yang kami kombinasikan menjadi motif batik. Ada juga motif yang menceritakan tentang Pulau Kundur,” jelas Farhida.

Saat ini, kelompok masih memfokuskan pengembangan pada batik ecoprint dengan memanfaatkan dedaunan yang tumbuh di sekitar wilayah Kundur.

“Daun-daun yang ada di sekitar kami kumpulkan dan diolah menjadi motif ecoprint. Karena masih baru, kami fokus memperkuat identitas ecoprint terlebih dahulu,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui proses pengembangan batik masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam memahami karakter bahan alami yang cocok untuk menghasilkan motif berkualitas.

“Kami masih terus belajar karena tidak semua bahan bisa digunakan untuk ecoprint. Jadi kami terus mencoba dan belajar mengenali bahan yang cocok agar kualitas produk semakin baik,” katanya.

Farhida berharap pelatihan dan pendampingan yang dilakukan PT TIMAH dapat terus berlanjut sehingga para anggota Rumah Batik Kundur mampu berkembang menjadi pembatik profesional dengan produk yang dikenal luas.

“Harapannya nanti kami bisa menjadi pembatik yang benar-benar profesional dan memiliki produk yang dikenal luas. Semoga pelatihan dan workshop terus berlanjut agar kemampuan kami semakin berkembang,” tutupnya.

*Nichita Bella