KARIMUN, beritakita.info – Hamparan padi yang menguning di Desa Pangke, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, menjadi gambaran bahwa daerah kepulauan pun memiliki peluang untuk mengembangkan pertanian pangan. Di balik lahan yang dahulu menghadapi kendala kedalaman lumpur, kini tumbuh optimisme untuk menghasilkan beras lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sabtu (17/10/2026), suasana panen padi kembali mewarnai Desa Pangke. Pemerintah Kabupaten Karimun bersama pemerintah desa dan masyarakat turun langsung menyaksikan hasil budidaya padi sawah dan ladang yang mulai menunjukkan prospek menjanjikan.
Pada panen kali ini, lahan seluas 0,25 hektare menghasilkan lebih dari satu ton gabah. Panen tersebut melengkapi hasil sebelumnya dari lahan seluas 0,2 hektare yang telah dipanen beberapa hari lalu.

Bagi masyarakat Pangke, hasil tersebut bukan sekadar gabah yang berhasil dipetik. Panen ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan dan kondisi tanah tidak selalu menjadi penghalang untuk membangun pertanian produktif, selama ada kemauan, pendampingan, dan dukungan yang berkelanjutan.
Membuktikan Karimun Bisa Menghasilkan Padi
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Karimun, Siti Rojiah Iskandarsyah, mengaku bangga melihat keberhasilan masyarakat Pangke mengembangkan tanaman padi di wilayah kepulauan.
Menurutnya, selama ini budidaya padi kerap identik dengan daerah sentra pertanian seperti Pulau Jawa. Namun, keberhasilan di Pangke menunjukkan bahwa daerah lain juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan komoditas tersebut dengan memperhatikan karakteristik tanah dan dukungan teknologi.
“Alhamdulillah, saya bangga di tanah yang seperti ini kita bisa menanam padi. Biasanya padi itu identik dengan Jawa. Ternyata di sini kita juga bisa,” ungkap Siti Rojiah saat menghadiri panen padi di Desa Pangke.

Ia menjelaskan, kondisi tanah menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan budidaya padi. Tingkat keasaman atau pH tanah perlu diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Menurutnya, keberhasilan di Pangke diharapkan dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain di Kabupaten Karimun yang memiliki potensi untuk mengembangkan pertanian serupa.
“Ini juga menjadi percontohan bagi yang lainnya bahwa kita bisa,” ujarnya.
Siti Rojiah juga menyampaikan pesan filosofis melalui perumpamaan tentang padi dan rumput. Baginya, menanam padi mengandung pelajaran tentang kebaikan, ketulusan, dan keteguhan dalam menjalankan sesuatu yang bermanfaat.
“Belajar dari padi, itu lambang kebaikan. Pepatah bilang, menanam padi tumbuh rumput, menanam rumput tidak tumbuh padi. Maksudnya, ketika kita berbuat baik, terkadang tetap ada hal negatif atau orang yang tidak suka. Tetapi, kita harus tetap berbuat baik,” tuturnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat masyarakat Pangke yang terus berupaya mengembangkan pertanian meskipun pada tahap awal harus menghadapi berbagai tantangan.
Pemda Bidik Perluasan hingga 20 Hektare
Optimisme serupa disampaikan Wakil Bupati Karimun, Rocky Marciano Bawole. Ia mengapresiasi keberhasilan panen padi di Desa Pangke dan menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mendukung pengembangan pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan.
Pemerintah menargetkan perluasan penanaman padi hingga sekitar 20 hektare pada 2027. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi beras lokal, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam sektor pertanian.
“Ke depan ada program penanaman padi untuk cakupan yang lebih luas, sekitar 20 hektare hingga 2027 mendatang,” kata Rocky di lokasi panen.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Rocky menyampaikan bahwa dirinya bersama Bupati Karimun akan memberikan dukungan pembukaan lahan seluas dua hektare yang nantinya dikelola langsung oleh masyarakat Desa Pangke.
Dukungan lahan seluas dua hektare juga disampaikan oleh Ketua TP-PKK Kabupaten Karimun bersama Ketua Yayasan Kanker Kabupaten Karimun.
Rocky menegaskan, pengembangan pertanian tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan. Ketersediaan bibit, pupuk, dan peralatan juga menjadi bagian penting agar petani dapat meningkatkan produktivitas.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi sesuatu yang bisa kita perbuat untuk menjaga ketahanan pangan. Dari Pemda Karimun, kami fokus mendukung, baik bibit, pupuk, maupun peralatan yang diperlukan,” ujarnya.
Ia menilai, meskipun tidak semua wilayah Karimun memiliki karakteristik tanah yang sama, sejumlah kawasan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian padi. Pulau Kundur, misalnya, dinilai memiliki wilayah dengan karakter dan kontur tanah yang berpeluang mendukung budidaya tersebut.
Menurut Rocky, penerapan teknologi pertanian yang tepat, disertai keterampilan petani, menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi yang tersedia.
“Ini tinggal perlu adanya sentuhan teknologi, didukung tangan-tangan terampil dari petani kita, sehingga padi bisa tumbuh subur,” katanya.
Pesanan Beras Lokal Hampir Lima Ton
Di balik perluasan lahan yang direncanakan, Desa Pangke telah menunjukkan potensi pasar yang menjanjikan. Beras hasil panen masyarakat setempat mulai diminati konsumen, bahkan pesanan perorangan tercatat mendekati lima ton.
Kepala Desa Pangke, Junaidi, mengatakan tingginya permintaan tersebut menjadi penyemangat bagi petani untuk terus mengembangkan produksi padi lokal.
“Sampai hari ini, pesanan perorangan saja sudah hampir lima ton. Ini menjawab bahwa beras kita tidak kalah kualitasnya dengan beras premium yang ada di pasaran,” ungkap Junaidi.
Ia menjelaskan, keberhasilan budidaya padi di Pangke tidak terlepas dari pendampingan intensif Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Pendampingan tersebut membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan teknis selama proses pengolahan lahan hingga masa panen.

Salah satu tantangan yang dihadapi pada tahap awal adalah kedalaman lumpur yang cukup berat. Namun, melalui kerja sama petani, pemerintah desa, penyuluh, dan pihak terkait, lahan tersebut perlahan dapat dimanfaatkan untuk budidaya padi.
Hingga saat ini, total lahan yang telah dipanen di Desa Pangke mencapai sekitar 0,6 hektare, tersebar di empat titik yang terdiri atas lahan sawah dan ladang. Dalam satu pekan terakhir, luas area panen telah mencapai lebih dari setengah hektare.
Junaidi memperkirakan produktivitas lahan dapat mencapai lima hingga enam ton gabah per hektare. Dengan varietas yang beragam dan harga jual yang disebut berada di kisaran Rp15.000 per kilogram, budidaya padi berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Desa Pangke sendiri memiliki potensi lahan sawah dan ladang sekitar dua hektare yang tersebar di tujuh titik, terdiri atas tiga titik ladang dan empat titik sawah. Sementara itu, total lahan yang telah dibuka mencapai lima hektare.
Pemerintah desa menargetkan perluasan lahan hingga 10 hektare pada akhir 2026, kemudian bertambah 10 hektare lagi pada 2027. Target tersebut menjadi bagian dari upaya menuju pengembangan pertanian yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sawah Menjadi Ruang Produktif bagi Lansia
Hal menarik dari pengembangan pertanian di Pangke bukan hanya hasil panen dan permintaan beras lokal. Aktivitas ini juga membuka ruang produktif bagi masyarakat lanjut usia (lansia).
Junaidi menyebutkan, saat ini terdapat 24 petani aktif yang mengelola lahan pertanian tersebut. Selain petani yang terlibat langsung, puluhan lansia di desa itu mulai merasakan dampak ekonomi dari kegiatan budidaya padi.
Menurutnya, pertanian memberikan kesempatan bagi warga untuk tetap aktif sekaligus memperoleh penghasilan dari kegiatan yang mereka lakukan.
“Hal menarik, dari yang tadinya satu orang, saat ini sudah 30 orang lansia kita yang merasakan dampak ekonomi. Target kami, 60 hingga 100 orang lansia bisa terserap bekerja di sini,” kata Junaidi.
Kehadiran lahan pertanian pun membuka peluang agar pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada produksi pangan, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
Dengan pengelolaan yang tepat, sawah dan ladang di Pangke dapat menjadi sumber penghasilan tambahan, tempat beraktivitas, sekaligus ruang kebersamaan warga.
Berpotensi Menjadi Destinasi Wisata Pertanian
Perkembangan pertanian padi di Desa Pangke kini turut menarik perhatian masyarakat dari luar desa. Hamparan sawah di tengah karakter wilayah kepulauan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang ingin melihat langsung proses budidaya padi.
Junaidi mencatat, lebih dari 400 orang telah berkunjung ke area persawahan Desa Pangke. Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa lahan pertanian setempat mulai memiliki daya tarik di luar fungsi utamanya sebagai penghasil pangan.

Potensi ini membuka peluang pengembangan wisata pertanian atau agrowisata yang dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan produksi padi.
Ke depan, jika dikelola secara berkelanjutan, pertanian di Pangke tidak hanya berpotensi mendukung ketahanan pangan Kabupaten Karimun, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui penjualan hasil panen, keterlibatan tenaga kerja lokal, dan kunjungan wisata.
Dari lahan yang semula menghadapi tantangan kedalaman lumpur, Desa Pangke kini mulai menapaki jalan menuju pertanian yang lebih produktif. Target 20 hektare pada 2027 menjadi langkah berikutnya dalam perjalanan tersebut.
Bagi masyarakat Pangke, setiap bulir padi yang dipanen membawa harapan: bahwa dari tanah sendiri, pangan dapat dihasilkan, ekonomi warga dapat digerakkan, dan peluang kesejahteraan dapat tumbuh bersama.
*Nichita Bella







