KARIMUN, beritakita.info – Siang itu, Jumat (23/10/2026), suasana Pondok Pesantren Al-Qur’an Hidayatullah di Sememal, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, terasa berbeda. Kehadiran 31 wisatawan asal Sik, Kedah, Malaysia, membawa kehangatan tersendiri bagi keluarga besar pesantren, terutama para santriwan, santriwati, dan anak-anak yatim piatu.

Bukan sekadar berwisata untuk menikmati pemandangan dan suasana daerah yang baru, rombongan yang tergabung dalam Grup Kembara Sik Kedah itu datang membawa misi persaudaraan. Mereka ingin berbagi kebahagiaan, mengenal kehidupan masyarakat setempat, sekaligus mempererat silaturahmi antara sesama Muslim dari dua negara bertetangga.
Kedatangan mereka disambut dengan perkenalan bersama para santri, ustadz, dan ustadzah. Suasana akrab pun terjalin meskipun mereka berasal dari negara yang berbeda. Perbedaan wilayah dan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk saling menyapa dan berbagi cerita.
Rombongan tersebut membawa buah tangan berupa bubuk Milo dan aneka jajanan cokelat. Mereka juga memberikan uang sagu hati kepada para santriwan, santriwati, serta anak-anak yatim piatu yang berada di lingkungan pesantren.

Tak hanya menyerahkan bantuan, para tamu juga membawa makanan ringan untuk dinikmati bersama keluarga besar Pondok Pesantren Al-Qur’an Hidayatullah. Momen sederhana itu menjadi ruang untuk membangun kedekatan, menghadirkan senyum, dan menumbuhkan rasa persaudaraan lintas negara.
Kembara Bukan Sekadar Perjalanan Wisata
Ketua rombongan, Sazizan Mat Piah, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari program Grup Kembara Sik Kedah yang telah memasuki pelaksanaan ke-22. Program itu menjadi salah satu upaya mereka untuk menjalin silaturahmi dengan masyarakat di berbagai daerah yang dikunjungi.
“Kami datang ke sini untuk menyantuni warga-warga pesantren dan juga panti asuhan. Ini program kali ke-22 yang kami buat untuk mengeratkan silaturahim antara dua negara,” ujar Sazizan.
Menurutnya, kegiatan kembara tersebut tidak semata-mata bertujuan mengunjungi tempat-tempat baru. Lebih dari itu, perjalanan menjadi kesempatan untuk mengenal kehidupan masyarakat, memahami kebudayaan setempat, dan mempererat hubungan antarsesama Muslim.

Ia menjelaskan, anggota rombongan berasal dari latar belakang pekerjaan yang beragam. Sebagian merupakan mantan pegawai pemerintah yang telah pensiun, pekerja swasta, hingga pengusaha yang menjalankan usaha sendiri.
Keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan bagi mereka untuk bergerak bersama dalam kegiatan sosial.
“Di dalam grup ini kami bercampur-campur dengan latar belakang yang berbeda, tetapi bersatu untuk berbagi,” katanya.
Selama melakukan perjalanan, Grup Kembara Sik Kedah telah mengunjungi sejumlah wilayah di Thailand dan Indonesia. Di Indonesia, mereka pernah menjelajahi Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau, Batam, Tanjungpinang, Tanjung Balai, hingga Lombok.
Kunjungan ke Karimun kali ini memiliki cerita tersendiri. Sebelumnya, sebagian besar anggota rombongan belum pernah menginjakkan kaki di daerah tersebut. Informasi mengenai Karimun kemudian mendorong mereka untuk memasukkan kabupaten di wilayah Kepulauan Riau itu ke dalam perjalanan kembara mereka.
“Kami dapat info untuk ke sini. Kami semua belum pernah ke sini. Alhamdulillah, hajat kami mau ke sini sudah tercapai,” ungkap Sazizan.
Karimun Mengingatkan pada Suasana Kampung Halaman
Selama dua hari berada di Karimun, Sazizan mengaku menemukan suasana yang tidak terlalu asing baginya. Menurut dia, kehidupan masyarakat Karimun memiliki kemiripan dengan Malaysia, meskipun skala perkotaannya terasa lebih kecil.
Ia juga terkesan dengan keramahan masyarakat setempat yang membuat rombongan merasa mudah menjalin kedekatan.
“Selama dua hari di sini, saya tengok di Karimun suasananya lebih kurang Malaysia, cuma mungkin bandarnya agak kecil sedikit. Penduduknya juga ramah dan senang didekati,” tuturnya.
Namun, bagi Sazizan, pengalaman berkunjung ke suatu daerah tidak cukup hanya dengan melihat pusat kota atau menikmati tempat wisata. Ia ingin menyaksikan langsung kehidupan masyarakat di kampung, termasuk suasana keseharian dan tradisi yang masih dijalankan.

Salah satu hal yang ingin disaksikannya adalah prosesi pernikahan masyarakat Karimun. Ia berharap dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat setempat menyelenggarakan majelis pernikahan, sekaligus membandingkannya dengan adat dan tradisi di daerah asalnya.
“Kami juga mau ke pernikahan untuk menyaksikan adat dan tradisi orang-orang di sini dalam menganjurkan majelis kawin. Mungkin bisa jadi berbeda dengan adat dan tradisi di tempat kami,” katanya.
Bagi rombongan tersebut, setiap perbedaan budaya bukanlah jarak yang memisahkan, melainkan pengalaman baru yang memperkaya perjalanan sekaligus membuka kesempatan untuk saling memahami.
Bantuan Kecil, Harapan Besar bagi Santri
Di sisi lain, kunjungan rombongan Malaysia itu disambut penuh rasa syukur oleh pengelola Pondok Pesantren Al-Qur’an Hidayatullah. Bantuan yang diberikan dinilai bukan hanya meringankan kebutuhan anak-anak, tetapi juga menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus belajar dan menuntut ilmu.
Sekretaris Yayasan Hidayatullah Karimun, Ustaz Abdul Wahab Simbolon, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian serta kunjungan silaturahmi tersebut.
“Kami sangat berterima kasih dan bersyukur sekali dengan adanya silaturahmi seperti ini. Kemudian dengan bantuannya, terutama untuk anak-anak di panti asuhannya, sungguh sangat merasa terbantu,” ujarnya.

Ia berharap hubungan baik yang terjalin tidak berhenti pada kunjungan kali ini. Menurutnya, perhatian dari masyarakat dan para donatur memiliki arti penting bagi anak-anak yang sedang menempuh pendidikan, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya atas silaturahminya dan juga bantuannya. Semoga tetap berkelanjutan, tidak terputus hanya hari ini saja. Harapan kita, anak-anak juga semakin semangat dalam belajar karena dengan adanya bantuan seperti ini mereka akan terus semangat lagi dalam menuntut ilmu,” kata Abdul Wahab.
Ia menjelaskan, Pondok Pesantren Al-Qur’an Hidayatullah saat ini memiliki sekitar 120 siswa secara keseluruhan. Dari jumlah tersebut, sekitar 45 siswa tinggal di pondok atau menjalani pendidikan dengan sistem berasrama.

Untuk jenjang sekolah dasar, sebagian siswa masih pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu, siswa tingkat SMP dan SMA lebih banyak tinggal di lingkungan pesantren untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan pembinaan.
Menurut Abdul Wahab, terdapat delapan anak yatim dan piatu di lingkungan pesantren. Selain mereka, banyak pula siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
Pihak yayasan berupaya membantu siswa yang tidak mampu dengan mencarikan donatur. Salah satu caranya adalah meminta keluarga melampirkan surat keterangan tidak mampu (SKTM) agar kebutuhan pendidikan anak dapat dibantu sesuai kemampuan dan dukungan yang tersedia.
“Yang tidak mampu itu kita minta lampirkan SKTM untuk kita carikan donatur yang bisa membantu,” jelasnya.
Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, pesantren terus berupaya memberikan pendidikan agama dan pembinaan Al-Qur’an kepada para santri. Program tahfiz yang dijalankan menjadi salah satu upaya membentuk generasi yang memiliki bekal ilmu agama dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Abdul Wahab menyebutkan, sejumlah santri telah menunjukkan perkembangan dalam menghafal Al-Qur’an, bahkan ada yang mencapai hafalan hingga 14 juz.
Menjalin Persaudaraan Melampaui Batas Negara
Kunjungan 31 wisatawan dari Sik, Kedah, Malaysia, tersebut menjadi gambaran bahwa perjalanan lintas negara dapat memiliki makna lebih luas daripada sekadar rekreasi.
Ada kepedulian yang dibawa, ada pengalaman yang ingin dipelajari, dan ada persaudaraan yang dirawat melalui pertemuan sederhana.
Di Pondok Pesantren Al-Qur’an Hidayatullah, kehadiran mereka bukan hanya menghadirkan oleh-oleh dan bantuan bagi para santri. Pertemuan itu juga membawa pesan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat tumbuh tanpa dibatasi perbedaan kewarganegaraan.
Bagi rombongan Grup Kembara Sik Kedah, Karimun menjadi tempat untuk mengenal kehidupan masyarakat yang baru bagi mereka. Sementara bagi keluarga besar pesantren, kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa perhatian dan dukungan dari luar dapat menumbuhkan harapan bagi anak-anak yang sedang berjuang meraih masa depan melalui pendidikan.
Pada akhirnya, perjalanan yang mereka tempuh bukan semata tentang seberapa jauh tempat yang berhasil dikunjungi, melainkan tentang seberapa banyak persaudaraan yang dapat dibangun dan kebaikan yang dapat dibagikan di sepanjang perjalanan.
*Nichita Bella







