Kamis, April 16, 2026
BerandaNasionalBelasan Kelompok Nelayan Terima Bantuan PT TIMAH Tbk, Ada Alat Tangkap Hingga...
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Belasan Kelompok Nelayan Terima Bantuan PT TIMAH Tbk, Ada Alat Tangkap Hingga Infrastruktur

PANGKALPINANG, beritakita.info – Bagi para nelayan di lingkar tambang, laut bukan sekadar bentang air, melainkan ladang hidup yang penuh risiko. Cuaca ekstrem dan harga perlengkapan melaut yang kian melambung sering kali menjadi jerat yang memutus asa. Menanggapi realitas tersebut, PT TIMAH Tbk sepanjang tahun 2025 mengintensifkan program bantuan bagi belasan kelompok nelayan di Bangka Belitung, Riau, hingga Kepulauan Riau.

Langkah ini bukan sekadar donasi alat tangkap biasa. Emiten pertambangan timah ini masuk ke ranah yang lebih krusial: perbaikan infrastruktur pesisir dan pemulihan armada nelayan yang lumat diterjang kecelakaan laut.

Intervensi di Tengah Ketidakpastian

Salah satu titik krusial bantuan ini menyasar kelompok yang paling rentan, yakni nelayan yang baru saja dihantam musibah. Di Desa Burong Mandi, Belitung Timur, KUB Nelayan Laut Tersenyum menerima bantuan mesin ketinting untuk mengganti mesin-mesin yang hilang atau rusak akibat cuaca buruk.

“Bantuan mesin ini sangat membantu, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan hasil tangkapan yang tidak menentu,” ujar Sugian, Ketua KUB Nelayan Laut Tersenyum. Baginya, harga mesin ketinting yang tidak murah mustahil terjangkau oleh nelayan kecil tanpa adanya sokongan dari luar.

Tak hanya mesin, di Desa Kundur, kelompok KUB Ratu Laut Teluk Dalam menerima bantuan jaring udang—peralatan spesifik yang menjadi tumpuan ekonomi utama mayoritas warga di desa tersebut. “Ini tahun pertama kami mendapat bantuan, dan ini langsung menyentuh kebutuhan utama kami sebagai nelayan udang,” kata Dedi, sekretaris kelompok tersebut.

Lebih dari Sekadar Alat Tangkap

PT TIMAH Tbk tampak menyadari bahwa produktivitas nelayan tidak hanya ditentukan oleh kualitas jaring dan mesin, tetapi juga oleh infrastruktur pendukung di daratan. Sepanjang tahun lalu, perusahaan juga menggelontorkan dana untuk pembangunan fasilitas tambatan perahu hingga pengerukan alur muara yang mengalami pendangkalan.

Pengerukan alur muara menjadi vital agar nelayan tidak perlu menunggu pasang untuk bisa melaut atau sekadar memulangkan hasil tangkapan. Strategi ini menunjukkan pergeseran paradigma CSR perusahaan: dari sekadar pemberian bantuan (charity) menjadi penguatan ekosistem ekonomi pesisir.

Simbiosis di Lingkar Tambang

Anggi SiahaanDepartment Head Corporate Communication PT TIMAH Tbk, menegaskan bahwa posisi perusahaan sebagai pelaku industri di wilayah pesisir membawa tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan mata pencaharian warga lokal.

“Kami berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat. Dukungan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nelayan dalam jangka panjang,” ujar Anggi.

Bagi masyarakat pesisir, kehadiran korporasi di tengah mereka kini tidak lagi hanya identik dengan kapal isap atau ponton tambang, melainkan juga sebagai tangan yang membantu “menambal” perahu-perahu mereka yang retak agar tetap bisa melaju menjemput rezeki di tengah samudera.(*)