Senin, Oktober 26, 2026
BerandaKarimunBerwisata ke Karimun, Rombongan Kembara Sik Kedah Malaysia Temukan Kembali Tradisi Melayu...
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Berwisata ke Karimun, Rombongan Kembara Sik Kedah Malaysia Temukan Kembali Tradisi Melayu yang Mulai Langka

KARIMUN, beritakita.info – Perjalanan sejauh ratusan kilometer dari Kedah menuju Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, bukan sekadar untuk menikmati suasana pulau dan berbelanja oleh-oleh. Bagi rombongan Kembara Sik Kedah, Malaysia, kunjungan ini menjadi perjalanan menyusuri akar budaya Melayu yang masih terpelihara, sekaligus menemukan kembali tradisi yang perlahan mulai jarang dijumpai di negeri mereka sendiri.

Sebanyak 32 orang anggota rombongan Kembara Sik Kedah tiba di Kabupaten Karimun pada Jumat (23/10/2026). Mereka menempuh perjalanan darat menggunakan bus dari Kedah menuju Johor selama kurang lebih 8 jam, sebelum melanjutkan perjalanan menyeberangi laut menuju Karimun.

Selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (23–25 Oktober 2026), rombongan ini mengisi kunjungan dengan berwisata, berbagi kebaikan, mengenal kehidupan masyarakat setempat, hingga menghadiri sebuah pernikahan sederhana masyarakat Melayu di Kecamatan Tebing.

Justru dari sebuah majelis pernikahan sederhana itulah, perjalanan mereka menemukan pengalaman yang paling berkesan.

Di tengah suasana kenduri, pakaian tradisional Melayu, alunan kompang, lantunan serakal, dan pantun yang bersahutan, mereka menyaksikan bagaimana warisan budaya leluhur masih hidup dalam kehidupan masyarakat Karimun.

Bagi sebagian anggota rombongan, suasana tersebut terasa seperti membuka kembali lembaran kenangan masa kecil di Kedah puluhan tahun silam.

Menemukan Kembali Tradisi Melayu yang Mulai Memudar

Sabtu (24/10/2026) pagi, rombongan Kembara Sik Kedah menghadiri prosesi pernikahan masyarakat Melayu di Kecamatan Tebing. Mereka menyaksikan langsung rangkaian adat yang tidak hanya mengiringi penyatuan dua insan, tetapi juga memperlihatkan nilai agama, kesantunan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi.

Prosesi diawali dengan akad nikah yang dilaksanakan oleh penghulu, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan seserahan atau antaran. Suasana semakin khidmat ketika tradisi serakal dilantunkan, berisi puji-pujian, selawat, serta kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Rangkaian acara berlanjut dengan makan berhidang, sebelum pengantin berganti pakaian Melayu untuk mengikuti prosesi berikutnya.

Dengan iringan tabuhan kompang, pasangan pengantin diarak menuju pelaminan. Mereka kemudian disambut dengan pertunjukan silat yang menambah semarak suasana.

Namun, perjalanan menuju pelaminan tidak berlangsung begitu saja. Pengantin lelaki harus melewati palang pintu yang menjadi bagian menarik dalam adat pernikahan Melayu.

Dua pemantun dari pihak lelaki dan perempuan saling berbalas pantun untuk membicarakan persyaratan yang harus dipenuhi sebelum pengantin lelaki diperbolehkan masuk. Setelah persyaratan pertama terpenuhi, masih ada palang muka yang kembali menghadirkan dialog berbalas pantun. Barulah setelah seluruh persyaratan adat dipenuhi, pengantin lelaki dipersilakan duduk bersanding bersama pengantin perempuan.

Rangkaian ini bukan sekadar hiburan. Di dalamnya tersimpan pesan tentang kesantunan, musyawarah, penghormatan antarkeluarga, serta kepiawaian masyarakat Melayu dalam menyampaikan maksud melalui pantun.

Tradisi tepuk tepung tawar yang dikenal dalam adat perkawinan Melayu Kepulauan Riau juga menjadi simbol doa dan restu bagi pasangan yang memulai kehidupan rumah tangga. Berbagai unsur yang digunakan dalam prosesi tersebut memiliki makna filosofis, mulai dari harapan akan kesejukan hati, kesucian niat, kemurahan rezeki, hingga keharmonisan keluarga.

Tidak hanya keluarga dari kedua mempelai yang diberi kesempatan untuk melakukan tepuk tepung tawar kepada sepasang pengantin, bahkan tetamu dari Kedah Malaysia yang turut hadir yang terdiri dari berbagai lini seperti empat orang mantan Bupati beserta istri dari Kedah Malaysia, para pensiunan guru dan pengusaha juga ikut serta dalam melakukan tepuk tepung tawar terhadap kedua mempelai.

Bahkan mereka juga turut serta mengikuti Serakal dan turun tangan saat silat sebelum mempelai bersatu diatas pelaminan.

Bagi rombongan dari Kedah, pengalaman menyaksikan rangkaian adat tersebut menghadirkan kesan yang mendalam.
Bakrie bin Hasan, pensiunan guru yang pernah mengajar di daerah Baling dan Sik, Kedah, Malaysia, mengaku menemukan perbedaan menarik antara adat perkawinan Melayu di Karimun dan tradisi yang berkembang di negerinya.

“Kami melihat bagaimana perkawinan yang dilaksanakan orang Melayu Kabupaten Karimun berbeda dengan orang kita di Kedah. Di sini masih ada banyak pantun-memantun. Kalau di Malaysia, pantunnya tidaklah begitu banyak, biasanya hanya di awal saja,” ungkap Bakrie.

Menurutnya, tradisi serakal atau pembacaan puji-pujian dan selawat yang masih dipertahankan masyarakat Karimun juga menjadi bagian yang menarik perhatian mereka.

Ia menilai, sejumlah tradisi lama yang masih dijalankan masyarakat Karimun mulai berkurang di Malaysia dan telah mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.

“Di sini masih ada barzanji atau serakal, masih memakai tradisi yang lama. Sementara di Malaysia, sudah ditukar dengan tradisi-tradisi yang baru. Mereka di sini masih mengekalkan tradisi yang dibawakan orang-orang tua dahulu,” tuturnya.

Bagi Bakrie, suasana pernikahan tersebut seolah membawanya kembali ke masa lalu.

“Saya di sini serasa balik pada zaman tahun 60-an dan 70-an di negeri Kedah dulu,” katanya.

Ia juga mengapresiasi sambutan masyarakat Karimun yang dinilainya hangat, serta hubungan sosial yang tetap terjaga dalam pelaksanaan kegiatan adat.

Pengalaman serupa dirasakan Saiful Anwar bin Azmi, mantan pegawai daerah atau bupati di Langkawi, Kedah, Malaysia.
Menurut Saiful, Karimun menawarkan suasana yang nyaman bagi wisatawan yang ingin bersantai sekaligus menikmati kekayaan budaya Melayu.

“Karimun ini sebuah pulau yang kita boleh datang untuk rileks, santai, boleh makan angin dalam keadaan yang tenang. Tak perlu tergesa-gesa, tiada macet, tidak ada hiruk-pikuk. Masyarakat di sini sangat mesra, penuh dengan sopan santun dan adat budaya Melayu,” ujarnya.

Ia mengaku terkesan ketika menyaksikan prosesi pernikahan yang disertai akad nikah, pembacaan doa, berbalas pantun, hingga tradisi serakal.

Saiful mengatakan, tradisi berjanji yang dahulu pernah ia ikuti bersama kelompoknya di Malaysia kini mulai jarang dijumpai di lingkungan masyarakatnya.

“Budaya Islam yang dahulu diamalkan pada zaman datuk nenek saya, waktu saya masih kecil, seperti berzanji, yaitu menceritakan kisah-kisah Nabi Muhammad dalam kitab berzanji, masih diamalkan di sini. Tradisi itu di Malaysia sudah agak berkurang, saya jadi seperti nostalgia, karna saya waktu masih umur 17 tahun pernah ikut berzanji untuk acara majelis kenduri kawin,” tuturnya.

Baginya, apa yang disaksikan di Karimun bukan hanya sebuah acara pernikahan, melainkan gambaran bagaimana masyarakat menjaga hubungan antara agama, adat, dan kehidupan sosial.

Berbagi Kebaikan, Menguatkan Persaudaraan Serumpun

Sebelum menyaksikan kekayaan adat Melayu, rombongan Kembara Sik Kedah terlebih dahulu mengawali kunjungan mereka dengan kegiatan sosial.
Pada Jumat (23/10/2026) siang, rombongan mengunjungi Panti Asuhan Hidayatullah di Sememal, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat. Dalam kunjungan tersebut, mereka berbagi bantuan berupa makanan dan kebutuhan lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak panti.

Kegiatan ini menjadi salah satu wujud bahwa perjalanan mereka ke Karimun tidak semata-mata untuk berwisata, tetapi juga membawa semangat berbagi dan mempererat persaudaraan lintas negara.

Nazaruddin, yang akrab disapa Nazdin, menyampaikan bahwa kehadiran rombongan tersebut di Karimun juga didasari keinginan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat dan budaya Melayu setempat.
Ia mengungkapkan, ada permintaan khusus dari rombongan agar mereka dapat dibawa menyaksikan langsung pernikahan adat Melayu.

“Yang unik, mereka meminta kami membawakan mereka ke acara pernikahan adat Melayu. Kebetulan ada masyarakat yang menikah pada hari itu, sehingga kami dapat membawa dan memperlihatkan kepada mereka bagaimana adat dan budaya yang digunakan masyarakat Melayu di Kabupaten Karimun,” kata Nazdin.

Menurutnya, antusiasme rombongan untuk mengenal tradisi lokal patut disambut baik. Apalagi, kunjungan wisatawan dari Malaysia berpotensi memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

“Kami menyambut baik antusiasme mereka. Dengan kedatangan mereka ke sini, tentu sangat mendukung perekonomian daerah kita. Terutama UMKM dan perhotelan sangat terbantu dengan kehadiran mereka,” ujarnya.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa wisata budaya tidak selalu harus dikemas dalam pertunjukan besar atau festival. Kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk prosesi pernikahan tradisional, justru dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin memperoleh pengalaman autentik.

Dari Pantai Ketam hingga Berburu Oleh-Oleh Khas Karimun

Usai menghadiri pernikahan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ketam pada Sabtu siang untuk menikmati suasana pesisir dan bersantai.

Sore harinya, mereka mengunjungi kawasan Kota Lama sebelum berbelanja oleh-oleh khas Karimun di gerai yang berada di kawasan Coastal Area.

Aktivitas tersebut menjadi kesempatan bagi para wisatawan untuk mengenal lebih dekat produk lokal sekaligus membawa pulang buah tangan bagi keluarga di Malaysia.

Fazir Abdulrahman, salah seorang pensiunan guru dari Kedah, mengaku senang dengan pengalaman berbelanja di Karimun. Ia mengatakan, oleh-oleh yang dibelinya akan dibawa pulang untuk anak-anak dan cucu-cucunya.

“Ini kami lagi beli oleh-oleh untuk anak dan cucu. Alhamdulillah, kami mendapatkan pelayanan yang mesra. Seronok sangat di sini. Saya rasa nak datang balik lagi nanti ke sini,” ungkap Fazir dengan penuh kegembiraan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain pariwisata Karimun. Keramahan masyarakat, kenyamanan suasana, dan keberadaan produk khas daerah menjadi bagian yang meninggalkan kesan bagi para pengunjung.

Pada Minggu (25/10/2026), rombongan kembali melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi pasar sebelum bertolak pulang ke Malaysia sekitar pukul 13.00 WIB.

Menjaga Warisan, Merawat Identitas Melayu

Kunjungan Kembara Sik Kedah ke Karimun menjadi pengingat bahwa adat dan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat identitas, nilai, dan cara hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Adat perkawinan Melayu, mulai dari berbalas pantun, serakal, makan berhidang, iringan kompang, silat, hingga prosesi bersanding, memperlihatkan kekayaan tradisi yang tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

Di tengah perubahan zaman, keberlanjutan tradisi tersebut membutuhkan keterlibatan keluarga, tokoh adat, tokoh agama, dan generasi muda agar tidak sekadar menjadi kenangan.

Bagi masyarakat Karimun, kunjungan saudara serumpun dari Kedah bukan hanya menghadirkan wisatawan, tetapi juga membuka ruang untuk saling belajar dan mengenali persamaan serta perbedaan budaya Melayu di kedua wilayah.

Sementara bagi rombongan Kembara Sik Kedah, perjalanan ini membawa pulang lebih dari sekadar foto, pengalaman berwisata, dan buah tangan. Mereka menemukan kembali jejak tradisi yang menghubungkan masa kini dengan kenangan masa lalu.

Dari sebuah majelis pernikahan sederhana di Kecamatan Tebing, Karimun menunjukkan bahwa kekayaan budaya tidak selalu terletak pada kemegahan acara, tetapi pada nilai yang dijaga, tradisi yang diwariskan, serta keramahan masyarakat yang membuat setiap tamu merasa diterima.

Sebab, ketika budaya tetap hidup di tengah masyarakat, ia tidak hanya menjadi warisan bagi anak cucu, tetapi juga jembatan persaudaraan yang melintasi batas negara.

*Nichita Bella