KARIMUN, beritakita.info – Di tengah padatnya bangunan dan hiruk-pikuk aktivitas warga, kawasan Kolong yang meliputi wilayah Sungai Lakam Barat dan Sungai Lakam Timur selama ini dikenal sebagai wilayah yang padat penduduk namun berkesan kumuh dan semrawut.
Kini, wajah kawasan yang menjadi salah satu “jantung” kehidupan masyarakat Karimun itu menjadi titik fokus utama pemerintah daerah Kabupaten Karimun.
Bupati Karimun Iskandarsyah tampak fokus untuk mengangkat derajat kualitas manusia lewat sektor pendidikan dan sektor kesehatan.
Iskandarsyah menegaskan bahwa pembenahan kawasan kumuh seperti Kolong yang sejak dulu belum tampak perubahan totalnya tidak bisa dilakukan dengan cara sepotong-sepotong atau sepihak.
Menurutnya diperlukan pendekatan menyeluruh dan melibatkan semua elemen kekuatan masyarakat agar hasilnya berkelanjutan dan diterima warga. Mulai dari aparat penegak hukum, lembaga adat, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat, semua akan diajak duduk bersama merumuskan langkah terbaik.
“Kolong ini adalah denyut nadi Karimun, tapi kondisinya perlu kita tata ulang sepenuhnya. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Polisi, Kejaksaan, Lembaga Adat Melayu, tokoh agama, dan tokoh masyarakat harus satu komando. Kita cari rumusan terbaik agar pembenahan ini menyentuh semua aspek kehidupan warga di sana,” ujar Iskandarsyah saat menjelaskan rencana strategis tersebut.
Dari tumpukan persoalan yang ada di kawasan kumuh ini, ada satu hal yang paling membuatnya prihatin dan menjadi kunci utama perubahan, yakni minimnya akses pendidikan.
Di tengah laju pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, ketersediaan gedung sekolah justru belum mampu mengimbangi kebutuhan. Masih banyak anak-anak usia sekolah yang terlantar, yang disuruh minta -minta uang di tempat-tempat keramaian hingga lampu merah, tidak duduk di bangku pendidikan formal karna terkendala administrasi yang mana mereka merupakan pendatang dari luar Karimun dan kebanyakan tidak memiliki identitas seperti KTP dan KK.
Fakta ini menjadi pukulan nyata bagi cita-cita meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Bagaimana mungkin sebuah daerah maju jika wilayah strategisnya masih banyak anak-anak yang kehilangan hak belajarnya?
“Saya melihat kondisi yang cukup memiriskan di sana. Masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah, Ini titik paling krusial. Kalau kita bicara kemajuan dan IPM, maka pendidikan adalah nyawanya. Kita tidak bisa membiarkan kawasan ini kumuh dan generasi mudanya tertinggal. Meskipun mereka pendatang, tetapi kita tetap harus memanusiakan manusia, Ini yang harus kita ubah sama-sama,” tegas Iskandarsyah dengan nada serius.
Pembenahan kawasan kumuh Kolong tidak berhenti pada pembangunan sekolah saja. Pemerintah juga berkomitmen membenahi tata ruang yang semrawut, meningkatkan akses kesehatan, serta memperbaiki kualitas lingkungan yang selama ini menjadi ciri khas wilayah tersebut. Iskandarsyah menegaskan, tidak boleh ada lagi kesan “pembiaran” yang membuat wilayah ini semakin tertinggal dan terpinggirkan.
Setiap kebijakan yang akan diambil nanti, kata dia, harus berlandaskan data akurat dan pemahaman mendalam terhadap kondisi sosial masyarakat setempat. Tidak ada intervensi yang asal jadi. Semua langkah dihitung matang demi memastikan perbaikan benar-benar berdampak pada peningkatan taraf hidup warga.
“Nanti kita duduk bersama, kaji kondisi sosial masyarakatnya secara mendetail. Kebijakan yang kita ambil harus pas sasaran, harus berorientasi pada kesejahteraan dan peningkatan hidup warga. Kami ingin menghapus kesan kumuh, semrawut, dan tertinggal dari wilayah ini,” tambahnya.
Harapan besar kini menggantung pada langkah ini. Ke depannya, kawasan Kolong diharapkan bertransformasi total: dari kawasan kumuh yang identik dengan kepadatan dan keterbatasan, berubah menjadi wilayah yang tertata rapi, bersih, sehat, dan yang paling penting—memiliki fasilitas pendidikan lengkap. Sebab, dengan lingkungan yang layak dan pendidikan yang merata, Karimun yakin akan lahir generasi muda yang cerdas, berdaya saing, dan membawa daerah ini melangkah lebih jauh.
*Nichita Bella
