PANGKALPINANG, beritakita.info– PT TIMAH (Persero) Tbk terus membuktikan komitmennya untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat, khususnya para nelayan di wilayah operasional perusahaan. Melalui berbagai program pemberdayaan yang menyeluruh, perusahaan tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga berupaya meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat pesisir.
Beragam bentuk dukungan digulirkan, mulai dari bantuan alat tangkap untuk meningkatkan produktivitas, fasilitasi jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan, hingga pembangunan dan perbaikan infrastruktur penunjang aktivitas melaut seperti tambatan perahu, pengerukan alur muara, dan perbaikan jalan akses.
Program ini telah menjangkau belasan kelompok nelayan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Riau, dan Kepulauan Riau. Di tahun 2026 ini, bantuan kembali disalurkan, salah satunya kepada Kelompok Nelayan Sungai Ulim, Kabupaten Bangka Selatan.
Salah satu penerima manfaat adalah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ratu Laut Teluk Dalam di Desa Kundur. Sekretaris KUB, Dedi, mengaku sangat terbantu dengan bantuan jaring udang yang diterima. Menurutnya, kondisi jaring milik anggota selama ini banyak yang rusak, namun keterbatasan dana menjadi kendala utama untuk menggantinya.
“Bantuan ini akan dimanfaatkan untuk membeli alat tangkap, yaitu jaring udang, karena memang sebagian besar nelayan di sini menggunakan jaring udang. Harapannya hasil tangkapan bisa lebih banyak karena jaringnya masih baru. Kalau jaring baru, hasilnya tentu lebih maksimal,” ujar Dedi.
Ia pun menceritakan tantangan ekonomi yang dihadapi rekan-rekan nelayannya.
“Hasil tangkapan sering kali tidak mencukupi untuk membeli jaring baru karena harga alat tangkap lebih mahal dibandingkan hasil tangkapan, sementara penghasilan nelayan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Penganak Air Gantang, Kabupaten Bangka Barat, Harman, menyambut positif bantuan berupa mesin tempel, kawat bubu, dan tali yang diterima kelompoknya. Alat ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Kebutuhan nelayan di sini seperti pasang bubu dan membuat rumpon. Mesin tempel juga sangat membantu nelayan yang sebelumnya hanya bisa bergerak di sekitar pinggir karena mesinnya kecil,” ungkap Harman.
Menariknya, Harman menekankan bahwa aktivitas pertambangan dan perikanan bisa berjalan beriringan asalkan dikelola dengan baik dan saling pengertian.
“Kalau dikelola dengan baik, aktivitas pertambangan dan nelayan di laut bisa saling berdampingan. Ini jadi dua sumber ekonomi masyarakat yang bisa berjalan bersama, asal saling pengertian,” tegasnya.
Selain alat tangkap, PT TIMAH juga peduli terhadap aksesibilitas. Di Penyusuk, Kelurahan Ramadan Indah, Bangka, perusahaan membantu perbaikan jalan yang sebelumnya rusak parah dan membahayakan pengguna, terutama saat musim hujan.
Kaling Penyusuk, Siswantoro, menjelaskan bahwa jalan tersebut merupakan jalur vital bagi nelayan untuk mengangkut hasil tangkapan dan menuju tempat tambat perahu.
“Kondisi jalannya sebelumnya rusak parah, apalagi kalau musim hujan sering membahayakan pengendara yang melewati. Padahal akses jalan ini sangat penting bagi nelayan karena menuju ke kawasan pantai dan tempat perahu,” katanya.
Ia pun mengapresiasi upaya perusahaan yang bekerja gotong royong memperbaiki jalan tersebut.
“Dengan perbaikan jalan ini dapat mendukung menggerakkan ekonomi masyarakat,” pungkas Siswantoro.
Tak hanya fisik, PT TIMAH juga memfasilitasi ribuan nelayan untuk mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Perusahaan juga aktif melakukan pelestarian lingkungan seperti penanaman mangrove, restocking kepiting dan cumi, hingga pembuatan fishing ground dan coral garden yang manfaatnya kini sudah dirasakan langsung oleh para nelayan.
*Nichita Bella







