Karimun, beritakita.info- Semangat gotong royong lintas suku, agama, dan golongan menyala di Kabupaten Karimun. Setelah berjuang selama 11 hari menggalang dana, Satuan Tugas (Satgas) Karimun Peduli Flores resmi menutup rangkaian aksi kemanusiaan pada Sabtu, (5/9/2026), di Posko Karimun Peduli Flores, Jalan Pelipit Kalibaru, Tanjung Balai Karimun.
Aksi ini bermula sejak 26 Agustus 2026, saat para relawan dilepas secara simbolis untuk turun ke masyarakat. Selama hampir dua minggu, penggalangan dana digelar di berbagai titik strategis seperti jalan raya, pasar, pelabuhan, pertokoan, rumah ibadah, hingga 10 sekolah dari jenjang TK hingga SMA/SMK negeri dan swasta se-Kabupaten Karimun. Setelah masa pengumpulan umum, pada 2–4 September, posko kembali dibuka untuk menerima donasi dari komunitas dan sekolah.

Saat laporan sementara disampaikan Koordinator Umum Satgas sekaligus Ketua Perkumpulan Keluarga Bunga Nukak (IKBN) Kabupaten Karimun, Sebastianus Sidia, terkumpul dana sebesar Rp49.003.800. Namun kebaikan tak berhenti di situ.
Ketua Among Mitro, Wiryanto, berniat menggenapkan hingga menjadi Rp50.000.000 dengan menambahkan Rp1.000.000. Tak lama berselang, Ketua Paguyuban Nias, Ginedaeli, menyumbang tambahan Rp500.000. Penasehat PMSTI, Aleng, juga ikut menambah sebanyak Rp1.500.000. Sehingga total bantuan yang akan dikirim ke NTT mencapai Rp52.000.000.
“Kita telah bergotong-royong lintas suku, agama, dan golongan untuk membantu saudara kita di Flores NTT. Hari ini kita menutup rangkaian kegiatan sekaligus mengapresiasi seluruh relawan yang telah berpartisipasi,” ujar Sebastianus.

Dana tersebut akan disalurkan kepada lima kabupaten/kota yang terdampak paling parah seperti Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, dan Nagekeo. Seluruh pencatatan keuangan dilakukan secara transparan, dan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) resmi akan disampaikan setelah dana disalurkan.
Kegiatan ini melibatkan beragam elemen masyarakat seperti Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Flobamorata, Paguyuban Ebam, KBM, Lembata, Lamaholot, Timor Oan, Pemuda Meral (Pameran), Kerukunan Pemuda Karimun (KPK), Sembang Alam Karimun, Generasi Muda Bunga Duka, serta Sispala SMA Negeri 1 Karimun. Seluruh perwakilan menerima piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian mereka.
Yohanes Moa Jeng, yang merupakan Penanggung Jawab Flobamorata mengucapkan terimakasih tak terhingga atas kerja keras yang telah dilakukan seluruh relawan.
“Terima kasih kepada seluruh relawan yang sudah luar biasa mau bergotong-royong membantu saudara kita yang terkena musibah di Flores NTT. Semoga apa yang kita lakukan bermanfaat bagi mereka. Atas nama penanggung jawab, saya ucapkan ribuan terima kasih, dan mohon maaf jika selama penggalangan dana ada hal-hal yang kurang berkenan,” ujar Yohanes.

Sementara Zulkhainen, Ketua FPK Kabupaten Karimun mengapresiasi atas kekompakan yang sangat luar biasa dan berharap agar ke depan tetap terus kompak.
“Kita bersyukur sekali bahwa di Kabupaten Karimun kepeduliannya masih sangat erat. Saya sangat mengapresiasi kerja keras seluruh relawan, dari berbagai suku yang ikut bahu-membahu. Mari kita jaga kolaborasi ini terus, sehingga kita bisa saling membantu bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Zulkhainen.

Mewakili Kepala Dinas Sosial, Venny Alfianita yang menjabat sebagai Penelaah Teknis Kebijakan pada bidang pemberdayaan sosial dan penanganan fakir miskin Dinas Sosial Karimun juga menyampaikan apresiasi terhadap semangat para relawan yang tergabung dalam satuan tugas Karimun peduli Flores.
“Atas nama Dinas Sosial, saya sampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Masyarakat Karimun mampu berbaur, mengorbankan tenaga, pikiran, dan materi demi membantu sesama. Hal ini tidak akan terlaksana tanpa jiwa sosial yang tinggi. Kesejahteraan sosial bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua. Semoga jerih payah bapak dan ibu semua dinilai sebagai ibadah oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan semoga ini menjadi contoh bagi lembaga sosial lainnya,” pungkas Venny.

Menurut informasi sebelumnya Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026 lalu, menimbulkan kerusakan luas dan puluhan korban jiwa. Peringatan dini tsunami sempat diberlakukan, namun kemudian dicabut. Dari sinilah kepedulian masyarakat Karimun bergerak menyatukan hati untuk meringankan beban saudara-saudara kita di ujung selatan negeri.
*Nichita Bella









