Minggu, November 8, 2026
BerandaKarimunPKSB Karimun Angkat Warisan Kuline, Aroma Randang Satukan Perantau Minangkabau
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

PKSB Karimun Angkat Warisan Kuline, Aroma Randang Satukan Perantau Minangkabau

KARIMUN, beritakita.info– Aroma rempah yang berpadu dengan semangat kebersamaan menyelimuti halaman Rumah Gadang Persatuan Keluarga Sumatera Barat (PKSB) Kabupaten Karimun, Sabtu (7/11/2026) siang.

Di tempat itu, para Bundo Kanduang dari berbagai organisasi keluarga Minangkabau tampak sibuk meracik bumbu, mengolah santan, dan memasak randang. Sesekali, canda dan tawa terdengar di antara kesibukan mereka. Bukan sekadar mengejar kemenangan, tetapi ada tradisi dan kerinduan terhadap kampung halaman yang turut dihadirkan melalui setiap proses memasak.

Suasana tersebut menjadi bagian dari kemeriahan Lomba Masak Randang yang digelar PKSB Kabupaten Karimun dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Karimun.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, itu menjadi lebih dari sekadar perlombaan kuliner. Di balik setiap racikan bumbu dan proses memasak, tersimpan upaya menjaga warisan budaya Minangkabau sekaligus mempererat tali silaturahmi masyarakat perantauan.

Ketua PKSB Kabupaten Karimun, Indrawarman, mengatakan lomba masak randang tersebut sengaja dihadirkan sebagai salah satu bentuk partisipasi masyarakat Minangkabau dalam memeriahkan hari jadi Kabupaten Karimun.

Antusiasme terlihat dari keikutsertaan sembilan perwakilan kabupaten/kota dan satu organisasi sayap yang turut ambil bagian dalam perlombaan tersebut.

Menurut Indrawarman, panitia juga menyiapkan trofi bergilir yang diperebutkan para Bundo Kanduang. Piala tersebut bukan hanya menjadi simbol prestasi, tetapi juga diharapkan mampu membangun semangat kebersamaan dan memotivasi peserta untuk terus melestarikan tradisi kuliner Minangkabau.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Bupati Karimun atas perhatian dan dukungan terhadap kegiatan PKSB, termasuk penyediaan trofi bergilir yang menambah semarak perlombaan.

Sementara itu, Bupati Karimun, Iskandarsyah, mengapresiasi inisiatif PKSB yang menghadirkan kekayaan budaya Minangkabau sebagai bagian dari perayaan HUT Kabupaten Karimun.

Menurutnya, rendang bukan sekadar makanan khas daerah, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai dan identitas kuat.

Bahkan, kelezatan kuliner tersebut telah dikenal hingga ke berbagai negara.
Bupati menyinggung kehadiran peserta dari Malaka serta popularitas randang yang telah menembus Belanda sebagai bukti bahwa kuliner Minangkabau mampu melampaui batas geografis.

Ia menegaskan, esensi kegiatan tersebut bukan semata-mata tentang siapa yang berhasil menjadi juara, melainkan bagaimana tradisi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan keluarga besar Minangkabau dalam suasana penuh keakraban.

“Nilai utama kegiatan ini bukan semata-mata kemenangan, melainkan terbangunnya keakraban, kegembiraan, dan persaudaraan antarkeluarga besar Minangkabau di Kabupaten Karimun,” ungkapnya.

Di sisi lain, perlombaan ini juga memperlihatkan bagaimana tradisi terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Jika semula konsep memasak direncanakan menggunakan kayu bakar sebagaimana cara tradisional, panitia akhirnya menyesuaikan teknis pelaksanaan dengan menggunakan kompor dan peralatan modern karena keterbatasan material pendukung.

Meski demikian, perubahan peralatan tidak mengurangi makna tradisi yang ingin dihadirkan. Proses meracik bumbu, mengolah santan, hingga menghasilkan randang dengan cita rasa khas tetap menjadi bagian penting dari perlombaan.
Sejumlah organisasi keluarga Minangkabau yang ambil bagian di antaranya PKKS, PKTD, PKPS, Bungo Panjuang, PKLTP, KIPAS, serta unsur organisasi keluarga Minangkabau lainnya.

Melalui lomba masak randang ini, PKSB Kabupaten Karimun menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan untuk merawat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.

Sebab, bagi masyarakat Minangkabau di tanah rantau, randang bukan hanya tentang rasa. Ada identitas, kenangan kampung halaman, dan nilai kebersamaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Dari halaman Rumah Gadang PKSB, aroma randang pun menjadi pengingat bahwa tradisi akan tetap hidup selama ada kebersamaan dan kemauan untuk melestarikannya.

*Nichita Bella