Senin, November 2, 2026
BerandaKarimunRayakan Usia ke 26 Tahun, LAM Karimun Gelar Berbagai Tampilan Adat Melayu...
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Rayakan Usia ke 26 Tahun, LAM Karimun Gelar Berbagai Tampilan Adat Melayu dengan Warisan Budaya yang Kental

KARIMUN, beritakita.info – Dentuman kompang mengiringi langkah para tetamu memasuki Balairung Seri Balai Adat Melayu Kabupaten Karimun, Sabtu (31/10/2026). Suasana kental dengan nuansa tradisi menyambut peringatan hari jadi ke-26 Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Karimun.

Di tengah balutan adat dan budaya Melayu, peringatan tersebut bukan sekadar seremoni pertambahan usia sebuah lembaga. Lebih dari itu, menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen dalam menjaga marwah, adat istiadat, serta warisan budaya Melayu agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Prosesi berlangsung dengan khidmat. Mulai dari istiadat berarak yang diiringi kompang, silat penyambutan, pemukulan gong dan gendang ketibaan, hingga tari persembahan yang menyambut kehadiran para tamu kehormatan.

Nuansa Melayu semakin terasa ketika para undangan menyaksikan persembahan silat hulubalang. Gerakan demi gerakan yang ditampilkan tidak hanya memperlihatkan seni bela diri tradisional, tetapi juga menjadi simbol keberanian, kehormatan, dan tanggung jawab dalam menjaga adat serta negeri.

Peringatan hari jadi ke-26 LAM Karimun tahun ini juga diisi dengan pemberian sejumlah penghargaan kepada tokoh, organisasi, dan kelompok masyarakat yang dinilai memiliki kontribusi dalam menjaga kelestarian adat istiadat dan budaya Melayu.

Ketua LAM Kabupaten Karimun, Muhammad Firmansyah, menjelaskan bahwa peringatan tersebut sengaja diisi dengan kegiatan yang memiliki makna lebih luas daripada sekadar perayaan tahunan.

Menurutnya, penghargaan yang diberikan merupakan bentuk apresiasi kepada mereka yang selama ini turut mengambil bagian dalam merawat dan mempertahankan identitas budaya Melayu di Kabupaten Karimun.

“Selain kegiatan seremonial, kita juga menampilkan pertunjukan seni bela diri silat yang bercerita tentang peristiwa bersejarah pada tanggal 1 Mei 1828 yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Karimun Darussalam. Kita juga memberikan penganugerahan pingat maupun sijil kepada orang-orang atau kelompok yang dianggap kompeten dalam rangka hari jadi LAM Karimun ini,” ungkap Firmansyah.

Sejumlah tokoh menerima Pingat Kehormatan LAM Karimun. Di antaranya mantan Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun, mantan Bupati Karimun Aunur Rafiq, serta sejumlah tokoh masyarakat dan figur yang dinilai memiliki kontribusi terhadap daerah.

Apresiasi juga diberikan kepada para pelaku seni, komunitas budaya, kelompok kompang, perguruan silat, serta sejumlah tokoh yang telah berjasa dalam pelestarian budaya Melayu. Penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga tradisi bukan hanya tanggung jawab lembaga adat, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Salah satu momen penting dalam peringatan kali ini adalah penganugerahan gelar adat kepada Panglima Hulubalang LAM Karimun, Risdyansyah, dengan gelar Datok Indera Perkasa Setia Negeri.

Penganugerahan tersebut menjadi catatan tersendiri karena untuk pertama kalinya LAM Karimun memberikan gelar adat dalam rangkaian peringatan hari jadinya.

Firmansyah berharap gelar yang diberikan tidak hanya menjadi sebuah kehormatan, tetapi juga membawa tanggung jawab besar bagi penerimanya dalam menjalankan amanah menjaga keamanan dan ketertiban daerah.

“Ini juga pertama kalinya LAM Karimun memberikan gelar adat. Kami harapkan gelar adat yang diberikan ini dapat memacu semangat hulubalang sebagai tonggak untuk dapat bekerja sama dengan Aparat Penegak Hukum (APH) di Kabupaten Karimun demi menjaga keamanan dan menciptakan kondusivitas,” terangnya.

Baginya, keberadaan hulubalang tidak hanya menjadi bagian dari simbol adat Melayu. Lebih dari itu, diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya.

Pemerintah Daerah Perkuat Komitmen Pelestarian Budaya

Di tengah rangkaian peringatan tersebut, kehadiran Bupati Karimun, Iskandarsyah, menjadi gambaran pentingnya hubungan antara lembaga adat dan pemerintah daerah.

Iskandarsyah menyampaikan ucapan selamat atas hari jadi ke-26 LAM Karimun. Ia berharap lembaga adat tersebut terus menjadi mitra pemerintah dalam menjaga moral, marwah, dan identitas Melayu di Kabupaten Karimun.

“Mudah-mudahan di usia ke-26 tahun ini, LAM Karimun bisa terus bersinergi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun, terutama untuk menjaga moral dan marwah Melayu. Kerja sama yang sudah terjalin selama ini perlu kita perkuat dan kita teguhkan lagi,” ujar Iskandarsyah.

Menurutnya, pelestarian adat dan budaya Melayu harus menjadi bagian dari arah pembangunan daerah. Hal tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Karimun periode 2025–2030, yakni menjadikan Karimun sebagai daerah yang maju, sejahtera, dan berbudaya.

Ia menyebutkan, pemerintah daerah telah menjalankan sejumlah program untuk mendukung pelestarian budaya Melayu, termasuk menerbitkan surat edaran kepada sekolah-sekolah terkait penggunaan bahasa Melayu.

Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan dan masukan dari LAM Karimun agar pelestarian budaya tidak berhenti pada kebijakan formal, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Visi kami tahun 2025–2030 yakni menjadikan Kabupaten Karimun sebagai daerah yang maju, sejahtera dan berbudaya. Ada kata berbudayanya di situ. Kita juga kemarin telah menerbitkan surat edaran ke sekolah-sekolah untuk penggunaan bahasa Melayu. Nah, ini juga ke depan kami butuh masukan dari LAM Karimun untuk penerapan pelestarian budaya Melayu, ke depannya bagusnya nanti seperti apa,” pungkasnya.

Menjaga Tradisi, Menyiapkan Masa Depan

Peringatan hari jadi ke-26 LAM Karimun menjadi pengingat bahwa adat dan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang hanya ditampilkan dalam acara seremonial.

Di balik setiap lantunan kompang, gerakan silat, pemakaian tanjak, hingga prosesi tepuk tepung tawar, tersimpan nilai-nilai tentang penghormatan, persaudaraan, keberanian, dan kebersamaan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Melayu.

Melalui penghargaan kepada para tokoh dan pelaku budaya, serta penguatan sinergi bersama pemerintah daerah, LAM Karimun diharapkan semakin berperan dalam memastikan warisan tersebut tidak tergerus perkembangan zaman.

Sebab, menjaga budaya bukan hanya tentang mengenang apa yang telah diwariskan para pendahulu, tetapi juga tentang memastikan generasi berikutnya tetap mengenal, mencintai, dan meneruskan nilai-nilai luhur Melayu.

Dua puluh enam tahun perjalanan LAM Karimun pun menjadi momentum untuk memperkuat langkah tersebut dengan merawat adat, menjaga marwah, dan membangun Karimun yang maju tanpa kehilangan akar budayanya.

*Nichita Bella