BANGKA BARAT, beritakita.info – Di tengah deru mesin industri pertambangan, denyut tradisi di pesisir Bangka Barat tetap terjaga. Festival Adat Ruwah dan tradisi ikonik Perang Ketupat di Kecamatan Tempilang kembali digelar dengan meriah, sebuah perhelatan tahunan yang menjadi simbol syukur sekaligus perekat sosial masyarakat setempat.
Namun, mengelola pesta rakyat berskala besar di tengah tantangan ekonomi saat ini bukanlah perkara mudah. Menyadari pentingnya menjaga warisan budaya tak benda ini, PT TIMAH Tbk kembali turun tangan memastikan tradisi tersebut tidak pudar dimakan zaman.
Menopang Identitas Lokal
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), emiten pertambangan timah ini menyalurkan bantuan dana untuk menutup berbagai kebutuhan festival. Penyerahan bantuan dilakukan oleh tim CSR PT TIMAH kepada Ketua Umum Festival, Sahanan Ali, pada Jumat (20/2/2026), dengan disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman.
Sahanan Ali menjelaskan bahwa dukungan dari PT TIMAH memiliki peran krusial dalam keberlangsungan acara. Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai berbagai aspek, mulai dari pelaksanaan ritual adat, hiburan musik rakyat, hingga kompetisi olahraga seperti bola voli dan sepak bola yang menyertai festival tersebut.
“Bantuan ini sangat membantu kami, terutama untuk menutupi biaya operasional kegiatan yang sudah terlaksana. Kami mengapresiasi konsistensi PT TIMAH yang setiap tahun selalu hadir untuk masyarakat Tempilang,” ujar Sahanan.
Simbol Keharmonisan Industri dan Budaya
Bagi Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, dukungan korporasi terhadap sektor kebudayaan adalah bentuk investasi sosial yang tak ternilai. Wakil Bupati H. Yus Derahman menegaskan bahwa tanpa kolaborasi dengan sektor swasta, festival sebesar Perang Ketupat akan sulit terlaksana secara maksimal.
“Kontribusi PT TIMAH memiliki peran besar. Dukungan ini sangat berarti bagi pelaksanaan pesta adat kami. Tanpa sokongan tersebut, mungkin kegiatan sebesar ini tidak akan berjalan sebaik ini,” ungkap Yus Derahman. Ia pun berharap agar kolaborasi ini terus terjaga, menciptakan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat di wilayah operasionalnya.
Lebih dari Sekadar Filantropi
Keterlibatan PT TIMAH dalam Festival Ruwah dan Perang Ketupat menunjukkan pergeseran paradigma CSR dari sekadar bantuan finansial menjadi upaya pelestarian nilai. Perang Ketupat sendiri adalah tradisi unik yang diyakini masyarakat Tempilang sebagai cara untuk menolak bala dan mempererat silaturahmi sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Dengan mendukung kegiatan ini, PT TIMAH berupaya membuktikan bahwa keberadaan industri ekstraktif tidak harus menggerus nilai-nilai lokal. Sebaliknya, kekuatan ekonomi perusahaan digunakan untuk membentengi tradisi agar tetap tegak berdiri.
Melalui komitmen ini, PT TIMAH menegaskan posisinya: tidak hanya tumbuh sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga menjadi penjaga identitas kultural masyarakat di “Bumi Sejiran Setason”.(*)
