Karimun, beritakita.info– Di tengah upaya menjaga stabilitas pangan, budidaya ikan air tawar yang digagas oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil Menengah Mandiri Indonesia (Apmikimmdo) Karimun, Kepulauan Riau, semakin menunjukkan tajinya. Selain mendulang keuntungan, inisiatif ini juga berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Berlokasi strategis di jantung kota, 14 kolam percontohan milik Apmikimmdo telah beroperasi selama empat tahun dan menjadi pusat perhatian berbagai pihak. Program ini berada di bawah bimbingan Dinas Perikanan dan Kelautan Karimun, serta mendapat dukungan penuh dari anggota DPRD Karimun, Nyimas Novi Ujiani, yang baru-baru ini melakukan kunjungan langsung ke lokasi.
“Saya sangat mengapresiasi budidaya ikan air tawar yang dilakukan Apmikimmdo. Lokasinya yang berada di tengah kota sangat strategis dan berpotensi menjadi penopang ketahanan pangan yang handal bagi masyarakat Karimun,” ujar Nyimas Novi Ujiani pada Selasa (4/11/2025).
Ketua DPC Apmikimmdo Karimun, Arif Siregar, menjelaskan bahwa kolam-kolam ini membudidayakan tiga jenis ikan air tawar, yaitu lele, nila, dan gurami. Dengan jadwal panen yang teratur—lele setiap dua minggu, nila setiap lima bulan, dan gurami setiap sembilan bulan—Apmikimmdo mampu menghasilkan:
- Lele: 280 kilogram per panen, dijual dengan harga Rp25 ribu/kg
- Gurami: 360 kilogram per panen, dijual dengan harga Rp60 ribu/kg
- Nila: 80 kilogram per panen, dijual dengan harga Rp40 ribu/kg
“Kami memprogramkan panen lele setiap dua minggu sekali untuk memenuhi kebutuhan pemasaran internal Apmikimmdo,” jelas Arif.
Produktivitas kolam Apmikimmdo terbilang tinggi, dengan hasil panen yang diprioritaskan untuk bidang pemasaran internal dengan harga yang kompetitif. Untuk ikan nila, sistem distribusi dilakukan secara bertahap untuk memastikan pembeli mendapatkan ikan segar tanpa proses pembekuan.
“Pembeli lebih memilih ikan segar langsung. Jadi, tidak semua hasil panen diambil sekaligus,” imbuh Arif.
Meskipun produktif, Arif mengakui bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah penyediaan bibit ikan, terutama lele yang memiliki tingkat konsumsi tinggi. Saat ini, bibit masih harus didatangkan dari luar daerah seperti Pekanbaru dan Batam secara mandiri.
Apmikimmdo berharap Pemerintah Daerah Karimun dapat memberikan perhatian lebih pada Balai Benih Ikan (BBI) Teluk Lekop, agar dapat berfungsi optimal bagi para pembudidaya lokal.
“Kami masih kesulitan mencari bibit ikan dan terpaksa mendatangkan dari luar. Harapan kami, BBI Teluk Lekop yang sudah menelan biaya besar bisa lebih aktif dan memberikan dampak nyata bagi pembudidaya di Karimun,” pungkas Arif.
*Ayat
